Kisah Makam Agung Blega



Berkembang di tengah-tengah masyarakat tentang kisah Makam Agung Blega yang berada di Dusun Karang Kemasan, Blega. Banyak versi cerita yang beredar dari mulut ke mulut mau pun yang berada di internet, akan tetapi di artikel ini penulis berusaha mencari sumber berita seakurat mungkin dengan mewawancarai langsung juru kunci Makam Agung Blega, Syeikh Ach. Djailani bin KH. Maulana Ishak.

Ada pun mengenai keaslian berita, kevaliditasan kisah, penulis sejauh ini masih belum menemukan bukti-bukti otentik yang bisa diterima secara ilmiah. Cerita ini murni berdasarkan hasil wawancara dan beberapa tambahan dari sumber-sumber lainnya sehingga saling melengkapi potongan-potongan kisah yang hilang.

Hubungan Pangeran Blega dan Raja-Raja Madura




Dikisahkan bahwasanya ada seorang Kiayi bernama Ki Demang. Dia menyebarkan Islam di tanah Madura. Membangun Masjid. Membangun Padepokan. Dan padepokannya berpusat di tempat beranama Aras Pelakaran (sekarang bernama Arus Baya, Bangkalan).

Sebelumnya Ki Demang telah meminang gadis Aras Pelakaran hingga akhirnya memiliki 5 orang anak:
  1. Pangeran Pramono
  2. Pangeran Pratolo
  3. Pangeran Pratali
  4. Pangeran Pranangka
  5. Pangeran Pragalbo
Masing-masing dari anak-anak Ki Demang diutus dan disebar ke penjuru Pulau Madura. Pangeran Pramono ditugaskan ke Sumenep. Pangeran Pratolo ditugaskan ke Pamekasan. Pangeran Pratali ditugaskan ke Sampang. Dan Pangeran Pragalbo menetap menemani ayahnya di Bangkalan.  Ada pun Pangeran Pranangka, dikisahkan ia diambil menjadi menantu oleh seorang raja di Pasuruan.

Sayangnya, waktu itu Pangeran Pragalbo belum mengikuti ayahandanya, ia masih memeluk Agama Budha.

Kepemimpinan Pangeran Pragalbo dilanjutkan sang anak: Pangeran Pratano. Pangeran Pratano juga beragama Budha. Meski pun di akhir hayatnya, Pangeran Pratano akhirnya memeluk Agama Islam dari salah satu patih anaknya yang bernama Mbah Geno yang sebelumnya telah masuk Islam di tangan Sunan Giri (bagian ini perlu ditelurusi lebih lanjut, karena berdasarkan informasi yang kami dapat dari Juru Kunci Makam Agung Blega, jarak antara Pangeran Pratano ke Sunan Giri terpaut sekitar 4-5 generasi).

Semenjak kejadian tersebut, tempat yang awalnya bernama Aros Pelakaran diubah menjadi Aros Baya, yang artinya adalah Arus Kehidupan.

Selepas wafatnya sang Ayah, Pangeran Pratano memegang tampuk kepemimpinan. Pangeran Pratano memiliki 5  orang anak:
  1. Pangeran Siding Gili
  2. Pangeran Tengah
  3. Pangeran Blega
  4. Pangeran Emas
  5. Raden Ayu Mas Kuning
Pangeran Tengah melanjutkan kepemimpinan ayahandanya di Aros Baya,  sedangkan Pangeran Blega diutus menuju Blega untuk menyebarkan dakwah agama Islam dengan harapan bisa mengajak masyarakat di sana yang mayoritas masih memeluk Agama Hindu Budha.


Awal Perang Saudara

Pangeran Blega tidaklah memiliki kekuasaan penuh atas kawasan dakwahnya di Blega, karena sebenarnya kawasan itu masih di daerah kekuasaan Kakaknya, Pangeran Tengah. Sehingga Pangeran Blega harus membayar upeti yang dikumpulkan dari rakyatnya untuk kemudian diserahkan kepada Pangeran Tengah di Arus Baya.

Sayang sekali, pada saat itu Pangeran Tengah berbeda keyakinan dengan Ayahnya yaitu Pangeran Pragalbo yang wafat di atas Islam. Pangeran Tengah masih memeluk Agama Nenek Moyangnya.

Dengan alasan tersebut, Pangeran Blega keberatan untuk membayar upeti kepada kakaknya. Ia berpikir bahwasanya dia diutus untuk mendakwahkan Agama Islam di tanah Blega, sedangkan dia harus membayar kepada upeti kepada Kakaknya yang beragama Budha.

Hingga tibalah sekitar kira-kira 2 tahun lamanya, Pangeran Blega tidak membayar upeti. Dan di sinilah kisah peperangan saudara dimulai.

Pangeran Macan Putih yang Terkenal

Jika kita berkunjung ke Blega, lebih khususnya berkunjung ke Makam Agung Blega, cerita yang kita dengar akan lebih banyak tentang Pangeran Macan Putih si Patih dari pada Pangeran Blega itu sendiri.

Karena ia termasuk panglima andalan Pangeran Blega. Diklaim memiliki kesaktian yang tidak umum, dan bisa menjelma berubah menjadi macan kembar putih yang mengerikan, siap memporak-porandakan musuh.

Di dalam perang saudara yang terjadi antara Pangeran Blega dan Pangeran Tengah, Pangeran Macan Putih menjadi salah satu yang paling berbahaya.

Pangeran Macan Putih Melawan Pasukan Arosbaya

Ketegangan yang terjadi antara Pangeran Tengah dan Pangeran Blega semakin menjadi. Sampai pada suatu hari dua orang penjaga Kraton Blega di perbatasan (yaitu Desa Bates) kedatangan tamu yang mengejutkan: sebuah iring-iringan pasukan berkuda dengan jumlah sekitar 100 pasukan, lengkap dengan senjatanya sedang mendesak masuk ke jantung pertahanan Kraton Blega.

Dua orang penjaga tersebut lari dengan sangat cepat menuju ke Pangeran Blega untuk mengabarkan apa yang sedang terjadi di perbatasan. Sang Pangeran pun mengutus patihnya yaitu Patih Macan Putih untuk mengatasi masalah yang ada.

"Apa maksud kalian datang kesini?", kata si Patih.

"Kami ingin menagih upeti, sudah 2 tahun tidak dibayar!" Jawab pasukan tersebut.

"Kenapa sampai 100-an pasukan? Bukankah untuk hal tersebut 2 orang saja sudah cukup?!"

"Biarkan kami masuk!"

"Tidak! Lawan saya dulu!"

Akhirnya terjadi lah peperangan Pangeran Macan Putih beserta 2 orang penjaga melawan pasukan dari Aros Baya. 3 orang melawan sekitar 100 pasukan.

Di tengah-tengah peperangan, terjadilah kejadian yang sangat bersejarah tersebut. Si Patih tiba-tiba berubah dan menjelma menjadi Macan Putih Kembar. Mengamuk dan menyerang musuh. Banyak dari pasukan yang akhirnya terbunuh, sisanya langsung kembali ke Aros Baya dengan tunggang langgang.


Pecahnya Peperangan Kedua

Setelah kepulangan pasukan Aros Baya, suasana di Kraton Blega sempat kondusif seperti sedia kala. Aman dan damai.

Tapi sayang, keadaan itu tidak berlangsung lama.

Ketika hari mulai gelap, sekitar pukul 5 sore, tiba-tiba datanglah pasukan yang jauh lebih besar dari pasukan sebelumnya. Kerajaan Aros Baya mengirim sektiar 3000 pasukan untuk menyerang Kraton Blega.

Sontak keadaan menjadi kacau balau. Pasukan tersebut memaksa masuk ke jantung pertahanan Kraton Blega. Menyerang siapa pun tanpa pandang bulu, anak-anak, wanita bahkan juga orang tua.

Pangeran Macan Putih diperintahkan untuk memimpin perang. Kondisi menjadi kacau balau. Dalam keadaan seperti itu, seorang prajurit menghidupkan lampu, yang akhirnya makam prajurit tersebut sekarang dinamakan Makam Padhemaran (dalam bahasa Madura berarti penerangan). Prajurit yang lainnya ada yang membunyikan kenong (semacam alat musik gamelan jawa) sehingga prajurit Kraton Blega bersiap siaga. Sampai sekarang makam prajurit tersebut dinamakan Makam Pangeran Kenong.

Ada juga yang mengisahkan kengerian momen tersebut saat salah seorang prajurit tidak menemui kuda perang. Sehingga ia langsung mengambil kuda-kudaan dari gedhek. Lalu secara ajaib kuda-kudaan tersebut berubah menjadi kuda perang asli.

Akhirnya bertemulah kedua pasukan. Peperangan berkecamuk. Darah tertumpah. Prajurit gugur, jatuh, dan tumbang. Karena amukan Patih Pangeran Macan Putih akhirnya peperangan bisa ditekan. Pasukan dari Aros Baya pulang. Dan pimpinan perang yang saat itu diketahui ternyata adalah Pangeran Siring Giri (kaka dari Pangeran Blega) melarikan diri ke Sampang.

Wafatnya Sang Jagoan 

 

Pangeran Macan Putih tidaklah gugur di medan peperangan. Akan tetapi ia wafat akibat diberi hadiah berupa baju dari Pangeran Tengah.

Ketika baju tersebut dikenakan oleh Pangeran Macan Putih, ia terlihat sangat gagah dan menawan. Tetapi tidak lama kemudian keadaan Pangeran Macan Putih sontak berubah. Hingga ia akhirnya meninggal karena memakai baju tersebut.

Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata baju hadiah pemberian dari Kerajaan Aros Baya tersebut telah diberi racun yang mematikan.



Sekarang makam Pangeran Macan Putih berada di Dusun Karang Kemasan, dan menjadi salah satu situs yang bernilai sejarah di Desa Blega bahkan di Kecamatan Blega itu sendiri.

Penutup

Seperti yang telah dijelaskan di awal, cerita ini kami ulik dari hasil wawancara dengan juru kunci Makam Agung Blega, Syeikh Ach. Djailani bin KH. Maulana Ishak dengan beberapa pengurangan.

Untuk kevaliditasan kisah, keotentikan cerita, sekali lagi belum kami dapati bukti-bukti ilmiahnya. Sehingga cerita di dalam kisah ini tentu saja bisa benar dan bisa salah. Jika bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka cerita tersebut salah, dan jika tidak bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka cerita tersebut bisa saja benar dan bisa jadi salah.

Wallahu a'lam.

-NH-

KKN 32 Trunojoyo Januari 2018

1 komentar: